Detak99.com || Pekanbaru. Suasana bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum memperbanyak ibadah dan menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan justru tercoreng oleh temuan mencengangkan di salah satu hotel di jantung Kota Pekanbaru.
Seorang tamu yang memesan kamar di Hotel Monoloog Pekanbaru yang beralamat di Jalan Tengku Zainal Abidin No. 23 Pekanbaru pada Senin, 23 Februari 2026, mengaku terkejut bukan main saat keesokan harinya membuka jendela kamar. Alih-alih mendapati pemandangan kota, ia justru menemukan sebuah bungkusan mencurigakan yang diduga bungkusan narkotika jenis sabu-sabu.
“Saya buka jendela kamar, berharap mendapatkan pemandangan kota yang indah. Tapi justru saya mendapatkan pemandangan bungkusan mencurigakan ini, dengan itu saya merasa sangat tidak nyaman”. Ungkap tamu hotel Monoloog pekanbaru
Temuan itu sontak memunculkan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin sebuah benda yang diduga narkotika bisa berada di area kamar hotel? Apakah bungkusan tersebut sengaja diletakkan? Terjatuh dari luar? Atau ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan lokasi hotel sebagai titik transaksi terselubung?
Menariknya, saat tamu mempertanyakan temuan tersebut kepada petugas hotel, ia mendapat jawaban bahwa bungkusan itu diduga “terjatuh dari lantai empat.”
Pernyataan ini bukan sekadar penjelasan teknis, tetapi justru membuka ruang pertanyaan yang jauh lebih serius. Jika benar berasal dari lantai atas, maka secara substansi pernyataan itu mengindikasikan adanya aktivitas di area internal hotel yang patut dipertanyakan.
Tanpa klarifikasi dan transparansi, jawaban spontan itu berpotensi ditafsirkan publik sebagai pengakuan tidak langsung bahwa sesuatu memang terjadi di dalam area hotel, bukan semata peristiwa acak dari luar bangunan.
Ramadhan semestinya menjadi bulan penuh berkah, bukan ruang abu-abu bagi dugaan praktik peredaran barang haram. Publik berhak mempertanyakan standar pengawasan dan keamanan internal hotel. Sejauh mana prosedur pemeriksaan kamar dilakukan sebelum dan sesudah tamu menginap? Apakah ada celah pada sistem keamanan, termasuk akses dari luar bangunan?
Kasus ini juga menjadi tamparan keras bagi pengawasan terhadap potensi peredaran narkotika di wilayah perkotaan. Hotel, yang notabene merupakan ruang privat berbayar, kerap kali menjadi lokasi rawan jika pengawasan longgar. Apalagi di bulan suci, ketika sensitivitas sosial dan moral masyarakat tengah berada di titik paling tinggi.
Perlu digarisbawahi, temuan ini masih berupa dugaan dan menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari aparat penegak hukum. Namun demikian, substansi persoalan tidak bisa dipandang sepele. Jika benar bungkusan tersebut merupakan narkotika, maka ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan alarm serius tentang potensi penyalahgunaan fasilitas publik.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari manajemen Hotel Monoloog Pekanbaru maupun aparat berwenang terkait kronologi lengkap dan hasil pemeriksaan awal atas temuan tersebut.
Media ini akan terus berupaya meminta konfirmasi dan klarifikasi kepada seluruh pihak terkait, termasuk manajemen hotel dan aparat penegak hukum, guna memastikan informasi yang berimbang dan transparan kepada publik.
















